PENDAHULUAN
Gangguan belajar spesifik atau specific learning disorder (SLD)
adalah gangguan belajar berbasis bahasa (IDEA, 1004). Gangguan ini mempengaruhi
prestasi akademis serta self esteem (harga diri), bisa disebabkan karena
masalah written language (reading atau written expression), masalah berhitung,
atau kombinasi (APA, 2013).
Kondisi ini belum diketahui penyebab pastinya, namun ada hal yang
pasti, anak dengan SLD memiliki intelegensi verbal dan performance yang normal,
dan adanya kesenjangan (diskrepansi) yang signifikan antara kemampuan akademis
(written language atau berhitung) dengan full scale IQ. Jika SLD disebabkan
karena membaca, maka secara teknis akan muncul diagnosis “SLD with impairment
in reading (dyslexia)”, jika disebabkan karena kemampuan menulis maka akan
muncul “SLD with impairment in written expression”.
KEMAMPUAN MEMBACA
Kemampuan membaca dapat dilihat dari tiga aspek: (1) akurasi
membaca; (2) kelancaran atau fluensi membaca; dan (3) pemahaman membaca.
Akurasi membaca akan dipengaruhi oleh phonological awareness skill, sedangkan
fluensi membaca berkembang karena dipengaruhi oleh phonological naming (atau
rapid naming), dan pemahaman membaca berkembang karena adanya empat komponen
yang menjadi pillarnya: akurasi membaca, fluensi membaca, listening skill
(phonological memory, semantic, syntax), dan discourse skill (recall dan retall
story).
Disleksia adalah gangguan dalam memperoleh dan mengembangkan
kemampuan membaca yang ditandai dengan adanya masalah utama dalam inakurasi
membaca, disfluensi membaca, dan pemahaman membaca (APA, 2013). Menurut
International Dyslexia Association (2002), inakurasi dan disfluensi membaca
yang terjadi pada disleksia disebabkan karena adanya masalah pada komponen
bahasa, yaitu komponen fonologi (phonological awareness dan phonological
naming).
Masalah pada phonological awareness menyebabkan inakurasi membaca, dan masalah pada phonological naming menyebabkan disfluensi membaca, sedangkan gangguan pemahaman membaca dianggap sebagai konsekuensi dari inakurasi dan disfluensi, dengan kata lain, kemampuan listening skill dan discourse skill pada disleksia dalam batas normal (standard score di atas 85).
KEMAMPUAN MENULIS
Kemampuan menulis, bisa dinilai atau dilihat dari dua aspek dan
sudut pandang: handwriting skill (graphomotor-based) dan written expression
skill (language-based). Handwriting berkembang karena adanya lima komponen yang
menjadinya pillarnya: core stability, shoulder stability, hand strength, visual
perceptual, dan letter formation.
Kemampuan written expression akan berkembang karena adanya pillar seperti kemampuan phonological awareness, spoken language, working memory, processing speed, dan executive function (Floyd, McGrew, & Evans, 2008).
Jika anak mengalami masalah graphomotor (terminologi yang bisanya
digunakan adalah DISGRAFIA), akan terlihat adanya masalah pada satu atau lebih
komponen handwriting skill (core stability, shoulder stability, hand strength,
visual perceptual, atau letter formation). Masalah handwriting ini tentu
menghambat proses belajar, khususnya menulis, namun, secara teknis disgrafia
merupakan salah satu gejala dari diagnosis developmental coordination disorder
(APA, 2013), BUKAN merupakan bagian dari diagnosis specific learning disorder
(APA, 2013).
Written expression skill (language-based) adalah kemampuan untuk
berkomunikasi, menyampaikan idea atau gagasan, pikiran, dan perasaan ke dalam
sebuah tulisan. Kesulitan pada kemampuan ini ditandai dengan adanya masalah
pada “process of expressing oneself in writing”, dan tampak
dalam bentuk: (1) inakurasi spelling; (2) inakurasi penggunaan tata bahasa; (3)
dan tidak terorganisirnya alur karangan tulisan yang dibuat.
Anak akan mampu mengekspresikan idea tau gagasan ke dalam tulisan
ketika ia memiliki kemampuan phonological awareness, spoken language, working
memory, processing speed, dan executive function yang baik. Masalah
phonological awareness (khusus segmentation skill) dapat mempengaruhi kemampuan
spelling, sehingga anak sulit untuk menulis urutan huruf pada tulisan dengan
tepat (misalnya, ingin menulis sepatu menjadi tesapu, pisau menjadi pisaw,
mangga menjadi mana).
Jika seorang anak harus berhenti dan sibuk memikirkan bagaimana cara mengeja (spell) sebuah kata yang ingin ia tulis, gagasan yang sudah ia kembangkan mungkin akan terlupakan (Graham, Berninger, Abbott, Abbott, & Whitaker, 1997), terlebih lagi ketika kemampuan working memory dan processing speed yang dimiliki juga rendah (standard score di bawah 86). Anak harus mampu mengeja (spell) dengan baik, mengekspresikan gagasan pada tingkat kata, frase, kalimat , dan selanjutnya belajar untuk mengintegrasikan satu kata atau kalimat satu dan yang lain sehingga menghasilkan teks atau narasi (kemampuan ini dipengaruhi oleh spoken language skill).
Ketika semua kemampuan ini dimiliki, selanjutnya anak harus memiliki kemampuan executive function, dimana anak harus merencanakan tujuan penulisan, memprioritaskan penempatan kata dan kalimat yang tepat untuk ditulis, mengorganisir kata dan kalimat menjadi suatu rangkaian yang runut, mereview dan merevisi tulisan sehingga orang lain secara utuh mampu untuk make an inference atau make a prediction sebuah tulisan yang dibuat.
PERAN TERAPIS WICARA
Terapis wicara memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam layanan
asesmen, diagnosis, pembuatan treatment plan, intervensi, dan re-evaluasi pada
individu dengan gangguan bahasa (spoken dan written language), gangguan wicara
(fonasi, resonansi, artikulasi, fluensi), dan gangguan menelan (Permenkes No 81
tahun 2014; Permenkes No 24 tahun 2013).
Disleksia (dyslexia)
Terapis wicara akan memfokuskan dirinya pada pengambilan keputusan
klinis (clinical decision making), pembuatan treatment plan, intervensi, dan
re-evaluasi area phonological processing dan spoken language (listening dan
speaking) yang dibutuhkan untuk berkembangnya kemampuan membaca. Phonological
awareness untuk akurasi membaca, phonological naming untuk fluensi membaca,
phonological memory, listening, serta discourse untuk pemahaman membaca.
Jika ditemukan adanya masalah spoken language spesifikasi listening dan atau speaking (standard score di bawah 86), maka dapat dipastikan disleksia yang dialami berkomorbid dengan language disorders (istilah lainnya adalah specific language impairment), dengan catatan performance IQ di atas 85, sehingga kondisi ini secara signifikan akan mempengaruhi modalitas pemahaman membaca pada anak. Selain itu, pada kondisi disleksia dengan komorbid specific language impairment, akan ditemukan verbal IQ di bawah rata-rata.
Ketika mendapatkan data mengenai seluruh area yang terkait, bukan
hanya diagnosis yang akan akurat, namun treatment plan akan sesuai dengan
kondisi anak. Misalnya, anak kenal huruf, tapi sulit menggabungkannya sehingga
yang tampak adalah anak tidak bisa membacanya dalam bentuk satuan. Sebagai
terapis wicara, tahap awal yang dilakukan bukan mengajarkan anak membaca, namun
mencari tahu kenapa ia tidak mampu untuk membaca, padahal sudah mampu mengenal
huruf. Jika dasar permasalahan sudah diidentifikasi, maka treatment plan akan
dibuat sesuai dasar permasalahan, bukan berdasarkan ketidakmampuan yang tampak.
Written expression disorders
Written expression skill melibatkan integrasi berbagai faktor
seperti working memory dan speed processing dengan faktor linguistik atau
bahasa (Englert & Raphael, 1988; Gregg, 1995, 2009; Gregg & Mather,
2002). Faktor-faktor ini kemudian mempengaruhi kemampuan penulis untuk
merencanakan, membuat draft, dan melakukan editing (Englert, Raphael, Anderson,
Anthony, & Stevens, 1991; MacArthur & Graham, 1993). Membuat teks dan
revisi teks merupakan keterampilan yang paling kompleks dari keterampilan
menulis, melibatkan dan membutuhkan dasar yang kuat dari kemampuan spoken
language dan area terkait (McCloskey, Perkins, & Van Divner, 2009).
Ketika berhadapan dengan seorang anak yang memiliki keluhan di
area menulis, maka perlu untuk diketahui: apakah kemampuan handwiritingnya
bagus? apakah writing expressionnya bagus? apakah area yang berkontribusi untuk
written expressionnya juga bagus? Oleh karena itu, untuk memastikan handwriting
anak bagus atau tidak, maka perlu untuk dirujuk ke professional yang
berkompeten, begitu juga untuk working memory dan processing speed. Terapis
wicara akan memfokuskan dirinya untuk memperoleh data dan melakukan clinical
decision making pada area yang terkait dengan kompetensinya seperti
phonological awareness dan spoken language (misalnya menggunakan CASL atau
CELF) yang mempengaruhi written expression (Gregg, 2009; Vlanagan &
Alfonso, 2011).
Sama pada kasus disleksia, ketika mendapatkan data mengenai
seluruh area yang terkait, bukan hanya diagnosis yang akan akurat, namun
treatment plan akan sesuai dengan kondisi anak. Misalnya, pada hasil asesmen
banyak huruf yang kurang atau diganti. Data ini tentu tidak dijadikan tujuan
terapi. Terapis wicara akan mencari tahu, kenapa tulisan anak banyak
penghilangan atau penggantian. Kemampuan apa yang dibutuhkan agar tulisan tidak
ada yang hilang atau diganti? Mungkin karena ketidakmampuan spelling. Bisa
saja, kenapa tidak bisa spelling? Mungkin karena tidak mampu segmentasi bunyi.
Bisa saja. Sehingga, tujuan pada terapi adalah agar anak mampu segmentasi
bunyi. Contoh lain, misalnya, anak sudah mampu menulis tanpa adanya
penghilangan atau penggantian huruf, namun saat diminta untuk membuat karangan
cerita, alur ceritanya sulit dipahami. Hal ini juga tidak dijadikan sebagai
tujuan terapi. Harus dicari tahu terlebih dahulu, kemampuan spoken language
yang mana dan seperti apa yang dibutuhkan agar anak mampu mengarang cerita,
begitu seterusnya. Pada intinya, treatment
plan harus dibuat sesuai dasar permasalahan, bukan berdasarkan ketidakmampuan
yang tampak.
All the best
Rexsy Taruna, A.Md TW
Peringatan: Tulisan ini dikutip dari berbagai referensi dan
bertujuan untuk memperkaya pengetahuan para pembaca. Saya tidak bertanggung
jawab atas kesalahpahaman serta salah mempergunakan informasi yang Anda terima.
Jika Anda tidak yakin dengan apa yang tertulis pada tulisan ini, saya
merekomendasikan Anda untuk mempelajari lebih banyak dari sumber lain.
Posting Komentar