PENDAHULUAN
Dalam pelayanan
anak dengan cerebral palsy, terapis wicara dapat memberikan layanan dengan
pendekatan habilitasi, kompensasi, atau kombinasi dari keduanya. Pendekatan
habilitasi merupakan pendekatan yang menitik beratkan pada proses konstruksi
kemampuan yang seharusnya anak miliki, dalam hal ini kemampuan menelan dan
komunikasi (wicara dan bahasa). Lain hal dengan pendekatan kompensasi,
pendekatan kompensasi menitik beratkan pada proses mengoptimalkan kemampuan komunikasi
melalui media alternatif. Kedua pendekatan ini dapat dilakukan secara isolasi
atau secara kombinasi.
PENDEKATAN
HABILITASI
Pendekatan ini
berupaya untuk memunculkan kemampuan yang seharusnya ada pada seorang anak.
Kita mengetahui bahwa secara umum anak dengan cerebral palsy memliki masalah
menelan dan komunikasi. Target dari pendekatan ini adalah agar anak mampu
mencapai fungsi sesuai dengan anak seusianya. Dalam kasus cerebral palsy,
secara umum terdapat tiga area utama yang akan dihabilitasi: (1) menelan; (2)
wicara; (3) dan bahasa.
Habilitasi
menelan
Habiitas menelan dilakukan pada tahun awal kehidupan dan merupakan habilitasi awal yang
dilakukan selain habilitasi wicara dan bahasa. Habilitasi menelan bertujuan
untuk mengoptimalkan asupan makanan dan minuman pada bayi cerebral palsy
dengan cara yang aman dan efisien. Terdapat beberapa teknik untuk
memfasilitasi pemberian asupan pada anak dengan masalah menelan: positioning, jaw stabilization, negative resistance, using
specialized feeding equipment, modifying temperature dan consistency, oral stimulation in feeding, nonfeeding oral stimulation.
Habilitasi bahasa
Habilitasi
bahasa dapat dilakukan pada tahun awal kehidupan. Terdapat tiga periode habilitasi bahasa. Masing-masing periode memiliki spesifikasi target yang
berbeda-beda. Pertama, periode prelinguistik (0-17 bulan), kedua periode
emerging language (18 – 35 bulan), dan terakhir periode developing language (36
– 83 bulan).
Habilitasi wicara
Habilitasi
wicara dapat dilakukan pada tahun awal kehidupan. Terdapat beberapa kemampuan
yang akan dihabilitasi secara garis besar:
(1) respiratory dan phonation program;
(2) oral motor exercises;
(3) muscle programming & coordination level;
(4) speech production level
(1) respiratory dan phonation program;
(2) oral motor exercises;
(3) muscle programming & coordination level;
(4) speech production level
PENDEKATAN
KOMPENSASI
Pendekatan ini
berupaya untuk mengkompensasi kemampuan yang seharusnya dimiliki dengan
memberikan metode alternatif untuk berkomunikasi. Kita mengetahui bahwa proses
habilitas seperti yang dijelaskan di atas merupakan sebuah proses panjang.
Selain itu, habilitas wicara dan bahasa dipengaruhi oleh tingkat keberhasilan
dari intervensi motorik. Misalnya, ketika head control anak tidak berkembang
dengan semestinya, maka fungsi oral motor akan menjadi dampaknya. Atas dasar
hal tersebut, penting sekali mengajarkan anak kemampuan komunikasi alternatif,
agar apa yang ia ingin komunikasikan dapat dipahami oleh lingkungan. Pendekatan
kompensasi ini dikenal dengan alternative augmentative communication (AAC).
Speech Pathology
Australia (SPA, 2012) mendefinisikan Augmentative and Alternative Communication
(AAC) sebagai "area praktik klinis dan pendidikan yang memberikan
intervensi komunikasi untuk individu yang memiliki sedikit atau tidak
memiliki kemampuan bahasa wicara atau yang memiliki kebutuhan komunikasi yang
kompleks. AAC dirancang untuk menggantikan kemampuan bahasa wicara ketika,
karena berbagai alasan, seperti disabilitas motoris, pengembangan dan habilitasi kemampuan
bahasa wicara sulit untuk dilakukan. Penggunaan AAC dapat bersifat sementara atau permanen.
Komunikasi
adalah proses dua arah. Seseorang harus berhasil mengirim pesan ke orang lain
dan harus bisa menerima pesan dari oranglain. AAC melibatkan strategi untuk
mengirim dan menerima pesan baik untuk individu yang menggunakan AAC atau untuk
mitra komunikasi.
Tujuan AAC
adalah untuk menyediakan sarana komunikasi independen dan untuk memaksimalkan
kemampuan dan kesempatan mereka agar berhasil berpartisipasi dalam lingkungan
sehari-hari. AAC mencakup semua bentuk komunikasi yang digunakan untuk
mengungkapkan pemikiran, kebutuhan, keinginan, dan gagasan.
Terdapat dua
jenis AAC: (1) unaided AAC; dan (2) aided AAC. Unaided AAC terdiri dari
gestures, pointing, vocalisations, body language, eye contact,
facial expression, dll. Sedangkan aided AAC terdiri dari low tech aided AAC
(misalnya, schedules, daily planner, timetables, PECS) dan high tech aided
AAC (speech generating devices).
All the best
Rexsy Taruna, A.Md TW
Peringatan: Tulisan ini dikutip dari berbagai referensi dan bertujuan
untuk memperkaya pengetahuan para pembaca. Saya tidak bertanggung jawab atas
kesalahpahaman serta salah mempergunakan informasi yang Anda terima. Jika Anda
tidak yakin dengan apa yang tertulis pada tulisan ini, saya merekomendasikan
Anda untuk mempelajari lebih banyak dari sumber lain.
Posting Komentar