PENDAHULUAN
Pada usia sekolah,
gangguan bahasa sering kali mempengaruhi perfoma literasi (reading, spelling,
written expression). Rendahnya performa literasi tersebut pada akhirnya dapat
menyebabkan: low achievement, low self esteem, poor self regulation, low motivation, dsb
Dampak-dampak di atas
dapat dicegah atau diminimalisir dengan pemberian: intervensi berbasis bukti
ilmiah atau intervensi dini,
akomodasi di setting
sekolah, support dari orangtua,
keluarga, dan pihak sekolah, dsb
DISLEKSIA
Bahasa memiliki 5
komponen: fonologi, morfologi, sitaksis, semantik, dan pragmatik. Kelima
komponen ini masing-masing terintegrasi pada dua area bahasa: spoken language
(listening dan speaking) dan written language (reading dan written
expression). Disleksia terjadi karena adanya gangguan pada satu komponen bahasa,
yaitu fonologi (International Dyslexia Association, 2002). Gangguan fonologi
ini mempengaruhi kemampuan anak untuk mengasosiasikan huruf
dan bunyinya (letter sound correspondence), dan berdampak pada decoding
(inakurasi membaca), spelling, menulis, dan gangguan pemahaman membaca sebagai
konsekuensinya atau gangguan sekundernya (International Dyslexia Association,
2002). Disleksia bisa terjadi tanpa adanya penyerta, bisa juga dibarengi (komorbid) dengan
kondisi lain seperti SLI (language disorder), speech sound disorders
(phonological representation disorder), dan ADHD.
BUKTI ILMIAH UNTUK PENANGANAN
Karena terapis wicara
memiliki kompetensi dalam asesmen, diagnosis, buat treatment plan, dan melakukan
intervensi pada masalah written language, salah satunya disleksia, maka terapis wicara hanya
akan memberikan intervensi pada area-area yang hanya terkait dengan kemampuan bahasa
yang terganggu.
Hingga saat ini, 5 pillar membaca masih dianggap
sebagai standar emas untuk meremediasi kemampuan membaca pada disleksia
(National Reading Panel, 2000). Lima pillar tersebut antara lain adalah:
Phonological awareness
National reading panel
meneliti 52 studi tentang pengajaran phonemic awareness (NICHD, 2000). Studi
ini dengan jelas menunjukkan bahwa pengajaran phonemic awareness dapat
meningkatkan phonemic awareness anak-anak. Selain itu, pengajaran phonemic
awareness sangat bermanfaat bagi anak-anak pada tahap awal belajar membaca.
Instruksi tersebut menghasilkan prestasi yang lebih tinggi dalam membaca dan
mengeja, dan dampaknya terbukti saat mengukur kemampuan pemahaman bacaan.
Tampaknya pengajaran phonemic awareness paling baik diajarkan di TK dan kelas
satu SD.
Phonic
National reading panel
menemukan 38 studi mengenai pengajaran phonic (NICHD, 2000). Pengajaran phonic
membuat anak-anak lebih cepat dalam belajar membaca. Pengajaran phonic dapat
memperbaiki keterampilan pengenalan dan kemampuan mengeja anak-anak kelas satu
dan memiliki dampak positif pada pemahaman bacaan.
Oral reading fluency
National reading panel
menemukan 51 studi mengenai oral reading fluency dan sejumlah besar bukti
mendukung gagasan bahwa mengajarkan oral reading fluency meningkatkan prestasi
membaca (NICHD, 2000).
Vocabulary
National reading panel
(2000) menemukan 45 studi tentang pengajaran kosa kata (semantic) dan
menunjukkan hasil yang baik terhadap pemahaman membaca.
Reading comprehension
National reading panel
(2000) menemukan 205 studi tentang pengajaran reading comprehension. Disimpulkan
bahwa terdapat tujuh strategi yang efektif; question asking, monitoring,
summarization, question answering, story mapping, graphic organizers, dan
cooperative grouping.
All the
best
Rexsy
Taruna, A.Md TW
Peringatan:
Tulisan ini dikutip dari berbagai referensi dan bertujuan untuk memperkaya
pengetahuan para pembaca. Saya tidak bertanggung jawab atas kesalahpahaman
serta salah mempergunakan informasi yang Anda terima. Jika Anda tidak yakin
dengan apa yang tertulis pada tulisan ini, saya merekomendasikan Anda untuk
mempelajari lebih banyak dari sumber lain.
Posting Komentar